MODEL
PENEMUAN ILMIAH
Oleh
: Bustamin
Model ini dapat dilakukan dengan cara
merangsang siswa dalam mempelajari dan meringkas arsip-arsip yang berisi
informasi tentang suatu peristiwa ataupun melalui proses bimbingan dimana siswa mempelajari konsep-konsep baik itu sains, ras ataupun tentang gender, dari pembelajaran
ini, siswa akan mulai menyadari bahwa perbedaan-perbedaan yang muncul di dunia
ini sebenarnya merupakan hasil dari proses sosialisasi dan siklus alamiah
manusia - alam yang berlangsung tanpa henti.
Tiga kisah di bawah ini sengaja disajikan
secara khusus pada siswa agar mereka dapat dirangsang untuk melakukan Penemuan dan penyelidikan :
a.
Bahwa
di Islandia, ada para peneliti yang memiliki informasi genealogis yang
menjangkau hingga 1.100 tahun yang lalu. Mereka menyebutkan bahwa ada sejumlah
orang yang terpaksa melakukan imigrasi disebkan adanya itrategi Penemuan yang diterapkan mereka ini berbeda dengan
strategi Penemuan lain tentang
proyek-proyek genomic dalam hal bahwa mereka dapat merunut garis keturunan jauh
kebelakang. Untuk itulah, mereka mulai menciptakan sebuah strategi unik.
b.
Beberapa
penemuan tentative. Proyek genome sebenarnya merupakan proyek penyebarluasan
penyakit yang telah direncanakan (disonse-oriental) dan, dalam hal asma
misalnya, para peneliti merunut para penderita asma yang merupakan turunan dari
para leluhur (yang juga menderita asma) yang lahir sekitar tahun 1710.
c.
Komposisi
populasi. Pada 800-an Masehi, sekitar 10.000 hingga 15.000 masyarakat di
Norwegia mendirika Islandia. Merka menyerang Irlandia Utara dan Inggris mencari
wanita-wanita muda untuk dijadikan “istri sekaligus budak”. Secara keseluruhan,
mereka berhasil memperbudak sekitar 40.000 hingga 50.000 wanita muda.
Objek ini merangsang siswa. Mereka akan
geram dengan masalah ini dan secara perlahan, diarahkan untuk melakukan Penemuan
dan kajian tentang Islandia dan
Skandinavia. Untuk memudahkan mereka melakukan Penemuan , mereka berusaha
melakukan seperangkat data, serta informasi-informasi tambahan tentang beberapa
Negara di dunia, utamnaya Islandia, Skandinavia, dan Norwegia. Mereka juga
berusaha menyelidiki bahwa “penggebrekan-istri” yang telah dilakuka oleh bangsa
Viking sangat menguras populasi wanita di islandia utara elain itu, mereka akan mempertanyakan apa
saja pengarudan Inggris Utara, selain itu, mereka akan mempertanyakan apa saja
pengaruh yang akan mencul.
Para siswa belajar bagaimana ilmu pengetahuan/sains
diciptakan dalam bentuk penemuan-penemuan. John berusaha untuk terus membuat
mereka sadar tentang bagaimana hal itu terjadi. Dia juga terus mengingatkan
mereka tentang premis Carl Sagan,
bahwa “The method of science, as stodgy
grumpy as it seems, is for more important than its findings” (Metode sains,
yang memang tampak bosan dan menjemukan ini, jauh lebih penting dari pada
penemuannya).
1. Orientasi Model
Menggunakan Pendekatan BSCS (biological sciences curriculum study) sebagai representasi model
pengajaran yang diadopsi dari program Eisenhower yang menyediakan cara-cara sekaligus
wadah bagi para guru sains dalam mendiskusikan pengembangan kurikulum,
pengajaran dan Penemuan .
Hakikat Pendekatan BSCS
adalah mengajarkan siswa untuk memproses informasi dengan menggunakan
teknik-teknik yang pernah digunakan oleh peneliti biologi yang menekankan pada
:
a.
Isi,
berkaitan dengan prilaku manusia dalam ekologi bumi seperti masalah-masalah yang
disebabkan oleh meningkatnyapopulasi manusia, pengurasan sumberdaya, polusi,
pengembangan daerah dan semacamnya.
b.
Proses,
berhubungan dengan Penemuan sains/ilmiah
dengan orientasi bahwa pemahaman
terhadap hasil sains tidak bisa diperoleh kecuali jika proses dalam sains
tersebut juga dipahami.
Untuk
membantu siswa dalam memahami tujuan/sifat sains, strategi yang dikembangkan
adalah memperkenalkan metode-metode biologi pada siswa yang disertai dengan
ide-ide dan fakta-fakta.
BSCS
menggunakan beberapa teknik untuk mengajarkan sains sebagai Penemuan yaitu :
a.
Menggunakan
banyak pernyataan yang mengungkapakan sifat/tujuan sains yang belum pasti,
seperti, “Kami tidak tahu,” “Kami tidak mampu mendeteksi bagaimana hal ini
terjadi,” dan “Bukti tentang hal ini masih diperdebatkan.” (Schwab, 1965: 40)
b.
Dalam
meletakkan pernyataan kesimpulan, BSCS menggunakan apa yang disebut narasi Penemuan
(narrative of inquiry), bahwa guru harus
menggambarkan latar belakang gagasan-gagasan penting tentang biologi dan mengikutsertakan
metode Penemuan dalam bidang biologi itu
sendiri.
c.
Kajian
laboratorium disusun untuk mengajak siswa melakukan Penemuan masalah-masalah, lebih dfari sekedar
mengilustrasikan sebuah teks/tulisan. Sebagaimana dinyatakan, masalah-masalah
tersebut tidak tersedia dalam buku. Mereka membuat situasi dimana siswa dapat
berpartisispasi dalam Penemuan ” (Schwab, 1965: 40).
d.
Program-program
laboratorium didesain dalam bentuk kelompok-kelompok yang melibatkan siswa
dalam Penemuan tentang suatu masalah biologi
yang benar-benar nyata, yang meliputi :
1)
Siswa
mungkin disajikan dengan bahan-bahan yang sudah biasa dan masalah-masalah yang
solusinya sudah tersingkap, tetapi “sebagaimana serangkaian masalah-masalah
terus berkembang, mereka harus hadir lebih dekat dan lebih dekat dengan
batas-batas pengetahuan” (Schwab, 1965: 41). Jadi, siswa mensimulasikan
aktivitas Penemuan para ilmuwan.
2)
Terbentuknya
suatu penerapan yang disebut sebagai Ajakan
untuk Penemuan (Invitations to Inquiry).
Sebagaimana fungsi laboratorium, ajakan Penemuan ini melibatkan siswa dalam aktifitas-aktifitas
yang memungkinkan mereka untuk mengikuti dan berpartisipasi dalam
logika/penalaran yang berhubungan dengan objek Penemuan atau problem metodologis dalam biologi.
2. Ajakan-Ajakan Untuk Penemuan
Strategi
ini dirancang untuk menunjukkan pada siswa bagaimana pengetahuan muncul dari
hasil interpretasi pada data untuk menunjukkan pada siswa bahwa interpretasi
data tersebut atau bahkan pencarian data berlangsung di atas dasar konsep dan
asumsi yang berubah seperti sifat pengetahuan itu sendiri yang terus
berkembang.
Inilah
pernyataan yang paling dapat dipercaya, yakni pengetahuan rasional yang dapat
dimiliki setiap orang.” (Schwab, 1965: 46) :
a.
Untuk
menunjukkan pada siswa bahwa meskipun pengetahuan berubah, ia berubah untuk
alasan yang lebih baik.
b.
karena
kita mengetahui lebih baik dan lebih banyak dari yang kita ketahui
sebelumnya.
c.
pengetahuan
saat ini bisa diperbaiki di masa depan bukan berarti bahwa pengetahuan masa
kini adalah palsu.
d.
Pengetahuan
masa kini adalah sains yang didasarkan pada fakta-fakta dan konsep-konsep yang
telah teruji dengan baik yang kita miliki saat ini.
Setiap
ajakan Penemuan (atau pelajaran) merupakan studi kasus yang
menggambarkan konsep dan metode disiplin tertentu. Setiap ajakan “mengajukan
contoh per contoh dari proses itu sendiri (dan) melibatkan partisipasi siswa
dalam proses tersebut” (Schwab, 1965: 47)
3. Model Pengajaran
Inti dari model ini adalah melibatkan siswa
dalam masalah Penemuan yang
benar-benar mengidentifikasi masalah
konseptual atau metodologis dalam bidang tersebut, dan mengajak mereka untuk
merancang cara-cara memecahkan masalah. Dari
sini, mereka bisa melihat bagaimana
suatu pengetahuan dibuat dan dibangun dalam komunitas para ilmuwan. Pada waktu yang bersamaan, mereka akan menghargai pengetahuan sebagai
hasil dari proses Penemuan yang
melelahkan dan mungkin juga akan belajar keterbatasan-keterbatasan dan
keunggulan-keunggulan pengetahuan masa kini.
a. Struktur Pengajaran
Struktur dalam model pengajaran Penemuan ilmiah ini memiliki banyak bentuk. Pada dasarnya,
ia meliputi elemen-elemen atau tahapan-tahapan seperti berikut ini :
·
Pada tahap pertama, siswa disajikan
bidang Penemuan , yang meliputi metodologi-metodologi yang digunakan dalam Penemuan
tersebut.
·
Pada tahap kedua, masalah mulai
disusun sehingga siswa dapat mengidentifikasi masalah dalam Penemuan tersebut. Pada tahap ini, bisa jadi siswa akan
mengalami beberapa kesulitan yang harus mereka atasi’ seperti interpretasi
data, atau pembentukan data, atau control uji coba, atau pembuatan kesimpulan.
·
Pada tahap ketiga, siswa diminta untuk
berspekulasi tentang masalah tersebut, sehingga dia dapat mengidentifikasi
kesulitan yang dilibatkan dalam Penemuan .
·
Pada tahap keempat, siswa diminta untuk
berspekulasi tentang cara-cara memperjelas kesulitan tersebut, dengan merancang
kembali uji coba, mengolah data dengan cara yang berbeda, menghasilkan data,
mengembangkan konstruksi-konstruksi, dan sebagainya.
b. Sistem Sosial
Dalam model
pengajaran ini, iklim kooperatif
sangat dianjurkan. Oleh karena siswa benar-benar dimasukkan kedalam komunitas
peneliti yang menggunakan teknik ilmu pengetahuan terbaik, iklim tersebut
mencakup tingkat keberanian tertentu sebagai bentuk kerendah hatian. Siswa
perlu menghipotesis secara cermat, menantang bukti, mengkritisi rancangan Penemuan
,dan sebagainya. Selain menerima ketatnya Penemuan , siswa juga harus mengakui
sifat pengetahuan mereka yang tentative dan selalu berkembang dengan baik
sebagai suatu disiplin, dan mereka juga perlu mengembangkan kerendahatian
tertentu dengan tetap berpegang teguh pada pendekatan mereka terhadap
disiplin-disiplin ilmiah yang telah berkembang dengan baik.
c. Peran/Tugas Guru
Tugas
guru
adalah membimbing, melatih, dan mendidik
peneliti dengan menekankan pada proses Penemuan dan membujuk siswa untuk bercermin pada proses
tersebut. Guru harus hati-hati bahwa mengidentifikasi fakta bukanlah perseoalan
utama yang patut ditekankan dalam Penemuan . Lebih jauh, yang terpenting dalam
hal ini adalah bagaimana guru dapat mendorong siswa menghadapi persoalan Penemuan
yang rumit dengan baik dan cermat. Dia
harus mengarahkan siswa untuk membuat hipotesis, menafsirkan data dan
mengembangkan konstruksi, yang merupakan bagian dari cara-cara mereka
mengintrepetasikan realitas yang terus berkembang.
d. Sistem Pendukung
Satu-satunya sistem
pendukung yang dibutuhkan dalam model ini adalah seorang instruktur yang
fleksibel dan terampil dalam proses Penemuan , yang dapat menyediakan
bidang-bidang Penemuan yang orisinil,
masalah-masalah yang mengiringinya, dan sumber-sumber data yang dibutuhkan
untuk melaksanakan Penemuan . Selain itu, system dukungan yang lain adalah
adanya perangkat-perangkat yang memadai untuk melancarkan penerapan beberapa
tugas tersebut diatas.
4. Penerapan Model
Konsepsi psikologi Sosial yang dijalankan
oleh para pembuat kurikulum dalam strategi pengajarannya, yang secara mendasar
membimbing siswa untuk mempraktikkan psikologi sosial, agaknya merupakan
konsepsi “terbaik” yang pernah diilustrasikan selama ini mengingat materi dan
aktifitas yang mereka sarankan sangat berpengaruh pada perkembangan emosi
siswa. Mereka telah menyiapkan tujuh
“unit laboratorium/unit Penemuan ” yang dikembangkan berdasarkan pustaka sumber
dan serangkaian buku-buku proyek. Tujuh
unit tersebut diawali dengan eksplorasi terhadap sifat-ilmu sosial, “ Belajar
Menerapkan Ilmu Sosial,” dan
berlanjut pada serangkaian unit dimana siswa menerapkan prosedur-prosedur dan
konsep-konsep ilmu sosial pada prilaku manusia: “Ada dan Menjadi,” “Memengaruhi
Sesama.”
Unit
pertama disusun untuk memperkenalkan siswa pada metode-metode ilmu sosial,
seperti:
a.
“Apa
yang dimaksud dengan contoh perilaku?”
(Bagaimana kita memperoleh contoh-contoh perilaku?)
b.
“Tiga
cara melakukan Observasi”
(Memperkenalkan gambaran, dugaan, pertimbangan nilai, dan perbedaan-perbedaan
di antara ketiga hal tersebut pada siswa)
c.
“Sebab dan Akibat” (Memperkenalkan
dugaan penyebab, pertama-tama dalam hubungannya dengan fenomena fisik, kemudian
dalam hubungannya dengan perilaku manusia.)
d.
“Penyebab ganda” (Mengajarkan bagaimana
menangani beberapa factor secara simultan. Contoh, siswa membaca dan
menganalisis suatu cerita yang tokoh utamanya memilki motivasi-motivasi untuk
melakukan hal yang sama.) (Lippit, Fox, dan Scahaible, 1969a: 24-25)
Pendekatan
ini fokous pada bagaimana guru mampu membimbing siswa dalam mengkaji interaksi
manusia, menyediakan kerangka rujukan akademik dan teknik-teknik untuk
menguraikan dan melakukan Penemuan , dan melibatkan mereka dalam Penemuan terhadap perilaku mereka sendiri dan sesama.
Tujuan akhir dari pendekatan ini adalah bagaimana siswa bisa memilki beberapa
karakteristik atau sifat-sifat para ilmuan sosial. Sehingga, nilai-nilai
pengajaran dalam pendekatan dapat ditransfer secara interpersonal sebagaimana
dalam ranah-ranah akademik pada umumnya.
Model
ini sebenarnya dapat diterapkan dengan mudah tergantung pada sejauh mana guru mampu mencari materi-materi yang
berorientasi pada bidang penelitian (bidang-bidang Penemuan ), yang jarang
dilakukan di beberapa kelas, sejak buku ajar didaktik menjadi standar. Meski
demikian, para guru agaknya jangan terlalu bingung mengingat setiap mata
pelajaran biasanya selalu memiliki serangkaian
teks yang berorientasi pada Penemuan atau mudah disesuaikan dengan model ini.
Seorang instruktur dengan pemahaman memadai tentang model ini akan dengan mudah
mencari dan menemukan materi instruksional yang dengan sedikit penyusunan
kembali, mungkin menyediakan bidang-bidang yang cocok untuk Penemuan . Apalagi,
para instruktur yang benar-benar ahli dalam disiplin ilmu tertentu mampu
membangun sendiri materi yang berorientasi Penemuan .
5. Dampak-dampak Instruksional dan Pengiring
Model Penemuan dirancang untuk mampu mendidik terbukanya
pemikiran dan kamampuan untuk meneguhkan pendapat dan menyeimbangkan alternatif
- alternatif. Oleh karena penekanannya pada upaya menciptakan dan membentuk
semangat bekerjasama dan kemampuan untuk bekerja bersama orang lain.
Model-model Penemuan ilmiah telah dikembangkan untuk dapat diterapkan
pada semua siswa tingkatan umur, dari pra sekolah hingga universitas (Metz,
1995). Tujuan intinya adalah untuk mengajarkan proses penting ilmu pengetahuan
dan sekaligus konsep-konsep dan informasi – informasi penting tentang berbagai
disiplin ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan.
Selain itu, banyak
pengamat yang telah melakukan Penemuan tentang model ini, dari hasil Penemuan itu ada dua jenis penemuan yang penting untuk
diperhatikan :
a.
Guru
yang menggunakan model ini perlu terlibat dalam upaya mengkaji substansi
akademik dan model-model pengajaran.
Selain itu mereka juga harus merusaha menerapkan pengajaran berbasis Penemuan
.
b.
Dimanapun
model ini diterapkan dan
diimplementasikan dengan baik dan dengan perhatian yang cukup pada
kajian materi akademik dan proses pengajaran hasil-hasilnya cukup mengesankan.
6. Masa depan
Saat ini, sudah banyak Penemuan yang dilakukan dalam model-model pengajaran
dan menunjukkan bahwa kondisi ini berpotensi mamajukan pemikiran tentang
bagaiman siswa dapat belajar membangun kategori, membuat dugaan dan
mengembangkan skill dalam membuat dan mensintesiskan sebab akibat yang lebih
efektif,
Dalam ilmu sains, komputer
dapat merancang database yang cukup besar untuk siswa yang akan membuat lebih
banyak jenis pembuatan konsep yang lebih rumit sehingga lebih mudah dalam
melakukan Penemuan . Tidak hanya itu, komputer juga memungkinkan memecahkan
kerumitan yang bersifat manual dan juga bisa dijadikan sebagai perangkat system
dukungan yang potensial.
Benjamin Moore Titanium | The Titanium Art Institute
BalasHapusA gold plated titanium plate plate with gold foil blue titanium cerakote plate. The handle is a ion chrome vs titanium polished and solid metal core. titanium knee replacement This plate is perfect for placing diamond plates on titanium pen the $13.99 titanium hair clipper · In stock